Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, geliat industri rumahan di Tangerang, Banten, tampak semakin sibuk. Produksi dupa meningkat signifikan seiring naiknya permintaan untuk kebutuhan ritual dan sembahyang. Tahun ini, masyarakat Tionghoa menyambut Tahun Kuda, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, dupa menjadi salah satu perlengkapan utama dalam rangkaian perayaan spiritual.
Berdasarkan pantauan di salah satu sentra industri rumahan di Tangerang pada Senin (9/2/2026), para pekerja terlihat menjemur batang-batang dupa di bawah terik matahari. Aktivitas ini menjadi bagian penting dari proses produksi agar dupa kering sempurna sebelum dikemas dan didistribusikan ke pasar-pasar tradisional maupun toko perlengkapan sembahyang.
BACA JUGA :Â Saham GOTO Kembali Dilirik, Transaksi Besar Warnai Februari 2026
Lonjakan Permintaan Jelang Perayaan
Setiap mendekati Imlek, permintaan dupa mengalami peningkatan yang cukup tajam. Produsen mengaku pesanan bisa naik hingga dua kali lipat dibandingkan bulan biasa. Jika dalam kondisi normal mereka memproduksi sekitar 50.000 batang dupa per hari, menjelang Imlek jumlah tersebut dapat meningkat hingga lebih dari 100.000 batang per hari.
Kenaikan ini didorong oleh kebutuhan masyarakat untuk melakukan ritual sembahyang di rumah maupun di klenteng. Dupa digunakan sebagai simbol doa, penghormatan kepada leluhur, serta harapan akan keberuntungan dan kemakmuran di tahun yang baru.
Selain untuk pasar lokal Tangerang dan Jakarta, beberapa produsen juga mengirimkan produk mereka ke berbagai kota lain di Indonesia yang memiliki komunitas Tionghoa cukup besar.
Proses Produksi yang Tetap Tradisional
Meski permintaan meningkat, sebagian besar industri dupa di Tangerang masih mempertahankan metode produksi tradisional. Prosesnya dimulai dari pencampuran serbuk kayu, serbuk arang, dan bahan perekat alami. Campuran tersebut kemudian dilapiskan pada batang bambu tipis secara manual.
Setelah dilapisi, batang dupa dijemur selama satu hingga dua hari, tergantung kondisi cuaca. Proses penjemuran sangat krusial karena memengaruhi kualitas pembakaran dupa. Dupa yang kurang kering biasanya sulit menyala atau menghasilkan asap berlebihan.
Tahapan terakhir adalah pewarnaan bagian ujung dupa dan proses pengemasan. Warna merah sering dipilih karena dianggap melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan dalam tradisi Tionghoa.
Dampak Ekonomi bagi Industri Rumahan
Peningkatan produksi menjelang Imlek membawa dampak ekonomi positif bagi para pelaku usaha kecil. Banyak industri rumahan yang menambah jam kerja atau merekrut tenaga harian tambahan untuk memenuhi lonjakan pesanan.
Bagi para pekerja, momen ini menjadi kesempatan memperoleh penghasilan lebih tinggi dibandingkan hari biasa. Dalam satu musim produksi menjelang Imlek, pendapatan bisa meningkat hingga 30–50 persen.
Tidak hanya produsen, rantai distribusi seperti pemasok bahan baku, pedagang grosir, hingga pengecer juga ikut merasakan dampaknya. Perputaran ekonomi di sektor ini menjadi salah satu contoh bagaimana perayaan budaya turut menggerakkan roda usaha lokal.
Makna Dupa dalam Tradisi Imlek
Dalam tradisi perayaan Tahun Baru Imlek, dupa memiliki makna simbolis yang mendalam. Asap yang mengepul ke atas dipercaya sebagai perantara doa manusia kepada Tuhan dan leluhur. Aroma harum dupa juga menciptakan suasana khusyuk dan sakral saat sembahyang berlangsung.
Biasanya, keluarga akan menyalakan tiga batang dupa sebagai simbol penghormatan kepada langit, bumi, dan manusia. Di klenteng, jumlah dupa yang dinyalakan bisa lebih banyak sebagai bagian dari ritual bersama.
Tahun Kuda yang disambut pada 2026 dipercaya melambangkan semangat, kerja keras, dan energi positif. Karena itu, banyak orang berharap doa-doa yang dipanjatkan melalui dupa membawa keberuntungan dan kemajuan sepanjang tahun.
Tradisi yang Terus Bertahan
Meskipun zaman terus berubah dan modernisasi merambah berbagai aspek kehidupan, tradisi penggunaan dupa dalam perayaan Imlek tetap bertahan. Industri rumahan di Tangerang menjadi bukti bahwa nilai budaya dan spiritual masih memiliki tempat penting di tengah masyarakat.
Lonjakan produksi dupa menjelang Imlek bukan sekadar fenomena musiman, melainkan cerminan kuatnya akar tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik kepulan asap yang harum, tersimpan harapan, doa, dan semangat baru menyambut tahun yang akan datang.